Versi Singkat Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari
Sudah merupakan bagian dari hukum alam, di mana setiap kepemimpinan pasti akan berganti. Sejak tahun 1222 Masehi, Singasari pernah berjaya melalui perjuangan Ken Arok dan usaha untuk mensejahterakannya. Sayangnya, masa keruntuhan Kerajaan Singasari akhirnya tiba juga pada tahun 1292 Masehi atau setara abad ke-13.
Pusat pemerintahan terakhir ketika
terjadi pemberontakan Jayakatwang berpusat di sekitar Kota Malang era modern.
Tepat sekali, sebagaimana kisah klasik dalam lembaran-lembaran catatan sejarah,
hancurnya kekuasaan berbasis Hindu Budha itu akibat adanya pihak yang
memberontak.
Kala itu, Singasari sedang berada di
puncak paling jayanya selama berkuasa. Bersama Raja Kertanegara, masyarakat
dibuat sejahtera, demikian pula pemerintahan. Hanya saja, di balik kesuksesan
setiap penguasa, sebenarnya bukan lagi rahasia bahwa ada orang-orang yang
dengki dan tak suka. Bahkan, dalam sejumlah catatan sejarah, motif paling utama
Jayakatwang menghancurkan kerajaan dari sisi internal adalah dendam masa lalu.
Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari |
Dahulu, Ken Arok selalu pendirinya
mengakuisisi kepemimpinan Kertajaya di Kediri, dan ini, rupanya bagian dari
cerita panjang leluhur Jayakatwang. Walaupun begitu, terdapat nama lain turut
melibatkan diri, tak sekadar didasari oleh Bupati Gelanggelang itu.
Kabarnya, inisiator utama yang
memicu kehancuran Singasari yaitu Aria Wiraraja. Disinyalir pria ini merupakan
mantan pejabat yang sengaja di mutasi ke bilangan Sumenep akibat dipandang
terlalu sering menyelisihi keputusan raja. Baca juga tentang
Sakit hati, dia menghasut Jayakatwang
agar bersedia mengikuti rencananya menjalankan pemberontakan. Kemudian,
sebagaimana Anda ketahui kini, kepemimpinan Kertanegara pada akhirnya hanya
tinggal sejarah.
Memaknai Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari
Dendam rupanya dapat menghancurkan
kesuksesan yang telah susah payah diraih oleh Ken Arok. Andaikata dahulu dia
tidak melakukan kudeta terhadap Kertajaya, barangkali skenario runtuhnya
kebanggaan miliknya tidak terjadi.
Meski begitu, memang sudah menjadi
algoritma takdir tersendiri, di mana setiap kesuksesan penguasa akan mencapai
puncak sebelum tersungkur habis, lalu menghilang.
Kisah pemberontakan tersebut juga
semestinya mengajarkan kita untuk memulai sesuai dengan mengandalkan cara-cara
normal, tak melanggar hukum formal ataupun moral. Terutama pada masa modern
tatkala segalanya mudah tercatat, maka perlu kehati-hatian dalam mengawali
tindakan.
Menemukan Moral Value pada Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari
Niat baik harus diwujudkan melalui
cara baik pula, agaknya kalimat ini sedikit banyak mewakili hubungan antara
pihak-pihak terlibat dalam Kerajaan Singasari pada momen menjelang
keruntuhannya. Contoh, menyelisihi penguasa sekiranya butuh disorientasi lewat
cara efektif, tak sekadar kecenderungan ego belaka.
Lebih lanjut, pihak penguasa pun
semestinya lapang terhadap masukan serta pertentangan dari bawahan atau rakyat.
Kadang kala ini justru mengandung ide-ide emas demi kemajuan bersama. Pada
akhirnya, butuh kolaborasi dari setiap pihak agar kepemimpinan berjalan
progresif dan kemajuan mampu diwujudkan.
Masa keruntuhan Kerajaan Singasari tampaknya membawa banyak makna, apakah itu dendam, ambisi, cinta, kedengkian, dan bahkan perjuangan. Tinggal kita manusia modern yang harus pandai menyaring mana hikmah terbaiknya.
0 Response to "Versi Singkat Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari"
Post a Comment