4 Pahlawan Nasional Dari Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia

Pahlawan Nasional Papua - Berbicara mengenai pahlawan nasional begitu banyak pastinya pahlawan-pahlawan pada jaman penjajahan yang ikhlas mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia, begitu juga halnya beberapa pahlawan Nasional dari Papua. Pada artikel ini, abang nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 4 Pahlawan Nasional Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia. 

1. Marthen Indey
Sumber: direktoratk2krs.kemsos.go.id
Marthen Indey merupakan salah satu dari pahlawan nasional yang berasal dari Papua. Marthen Indey lahir di wilayah Doromena, Jayapura pada tanggal 14 Maret 1912 serta wafat di tempat yang sama dengan daerah kelahirannya yaitu di Doromena pada tanggal 17 Juli 1986 pada usianya yang mencapai 74 tahun. 

Kisah Perjuangan Marthen Indey
Sebagai salah satu dari anggota Polisi Hindia Belanda Marthen Indey pernah ditugaskan mengamati para Digulis di Tanah Merah (Digul). Di tempat ini dia mulai mendapatkan pengaruh nasionalisme. Dengan sekitar 30 orang anak buahnya, Indey memiliki rencana untuk menangkap para aparat pemerintah Hindia Belanda di wilayah Digul. Rencana itu tidak berhasil serta Indey dibawa penjajah Belanda ke Australia disaat Jepang masuk ke daerah Irian. 

Pada tahun 1944, dia kembali lagi ke daerah Irian bersama dengan pasukan Sekutu serta mendapatkan tugas untuk melatih melatih para nggota Batalyon Papua yang dibentuk oleh sekutu untuk melawan Jepang. Meskipun secara resmi di antara tahun 1945 hingga 1947 beliau diberikan kepercayaan untuk menjadi aparat pemerintah Belanda yakni sebagai Kepala Distrik Arso Yamay dan juga Waris, akan tetapi dengan sembunyi-sembunyi Indey masuk ke dalam barisan Sugoro yang merupakan bekas digulis yang bekerja menjadi seorang Guru Sekolah Pamong Praja di Kota Nica yang saat ini dikenal dengan nama Kampung Harapan. 

Dalam barisan ini Marthen Indey dan teman-temannya mempersiapkan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan Belanda serta mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di daerah Irian Barat, namun rencana mereka didapati oleh pasukan Belanda. Perlu kita ketahui, tepatnya pada bulan Oktober 1946 Marthen Indey bergabung dalam Anggota Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang saat itu dipimpin oleh Dr. Gerungan di Hollandia Binmen. Beberapa waktu kedepan Marthen Indey  yang selanjutnya menjadi ketua, akan tetapi  KIM selanjutnya berganti nama menjadi Partai Indoneia Merdeka (PIM). Dalam kedudukan menjadi seorang Ketua PIM. 

Marthen Indey sendiri  memimpin delegasi yang terdiri dari 12 Kepala Suku yang menyampaikan protes pada maksud dan tujuan penjajah Belanda guna memisahkan Irian Barat dari negara Indonesia. Indey menyarankan anggota milker yang bukan orang Belanda agar melancarkan suatu serangan pada penjajah Belanda. Hal ini tentunya mengakibatkan Marthen Indey dipantau semakin ketat oleh pasukan Belanda. 

Peluang untuk cuti ke daerah Ambon digunakan Indey untuk mengabari kelompok-kelompok pro Indonesia di daerah Maluku guna menolong perjuangan masyarakat Irian Jaya. Lantaran kegiatan itu dia diamankan pemerintah Belanda serta dipenjarakan selama kurang lebih tiga tahun. 

Setelah tahun 1950 Marthen Indey masih memelihara hubungan baik dengan kelompok-kelompok pro Indonesia yang melaksanakan pergerakan bawah tanah. Bersama dengan J Teppy, pada Januari 1962 dia menyusun kekuatan gerilya sembari menunggu kehadiran pasukan Indonesia yang bakal di drop di Irian Jaya dalam rangka Trikora. Dia diantaranya yang sukses dalam menyelamatkan sebagian orang anggota RPKAD yang didaratkan di Teluk Merah serta membuat perlindungan untuk mereka dirumahnya sendiri. 

Perjanjian New York tanggal 15 Agustus 1962 menyudahi Trikora dan juga Irian Jaya ditempatkan di bawah Pemerintahan sementara yakni PBB (UNTEA). Bulan Desember 1962 Marthen Indey bersama dengan E.Y. Bonay pergi ke New York buat mengusahakan di PBB supaya periode UNTEA disingkat serta Irian Jaya selekas mungkin dimasukkan ke Daerah Republik Indonesia. Setelah itu dia ke Jakarta menyampaikan Piagam Kota Baru pada Presiden Soekarno yang berisi ketegasan kemauan masyarakat Irian Jaya untuk terus setia pada Indonesia. 

Sepanjang tahun 1963-1968 Marthen Indey duduk menjadi seorang Anggota MPRS sebagai wakil Irian Jaya, selain jabatannya menjadi seorang kontrolier ia juga  diperbantukan pada Residen Jayapura. la diangkat menjadi Mayor Trituler Marthen Indey.

Pemberian Penghormatan
Ia adalah putra Papua yang diberikan penghormatan dari Pemerintah Indonesia sebagai salah satu dari pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tgl. 14 September 1993 bersama dua putra Papua yang lain yakni Silas Papare dan juga Frans Kaisiepo.

2. Frans Kaisiepo
Sumber: @abas_id via Instagram
Frans Kaisiepo merupakan salah satu pahlwanan nasional yang berasal dari Papua. Beliau lahir di Wardo, Biak, Papua, pada tanggal 10 Oktober 1921 serta  wafat di kota Jayapura, Papua, pada tanggal 10 April 1979 pada usianya yang mencapai 57 tahun. Frans sendiri berperan serta dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membahas tentang pembentukan ataupun pendirian Republik Indonesia Serikat sebagai perwakilan dari Papua.

Dia mengajukan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang bermakna tempat yang panas. Tidak hanya itu, dia sempat juga memegang jabatan sebagai Gubernur Papua di antara tahun 1964 hingga 1973 yang artinya dia telah memimpin Papua selama kurang lebih 9 tahun lamanya.  Dia disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Kisah Perjuangan Frans Kaisiepo
Pada tahun 1945, ia sempat berkenalan dengan Sugoro Atmoprasodjo sewaktu mengikuti pelatihan Kilat Pamong Praja di wilayah Kota Nica Holandia yang merupakan sebuah Kampung Harapan Jayapura. Dari perkenalannya inilah dia dan juga kawan – kawannya mulai meningkat rasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Selanjutnya,  dia dan juga rekan-rekannya kerap kali membuat suatu pertemuan dengan cara sembunyi-sembunyi dengan Sugoro yang membicarakan tentang penggabungan Nederlands Nieuw Guinea menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indo­nesia. 

Jika ada kesempatan mereka berlatih serta menyanyikan lagu Kebagsaan Indonesia Raya yang dikomandoi oleh Sugoro. Frans Kaisiepo tidak sepakat dengan papan nama pelatihan atau sekolah yang diikutinya itu yang tertulis Papua Bestuur School. Kemudian, dia memerintahkan saudarannya yang bernama Marcus Kaisiepo untuk melepaskan tulisan tersebut  untuk ditukar dengan kata lain yakni kata Irian, sampai-sampai tulisan pada papan tersebut berubah menjadi Irian Bestuur School.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 ada suatu peristiwa yang terjadi di Kampung Harapan Jayapura, yakni telah dinyanyikan  lagu Indonesia Raya oleh Frans Kaisiepo bersama saudaranya Marcus Kaisiepo dan juga temannya Nicolas Youwe beserta teman-temannya yang lain. Gagasan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia selanjutnya semakin berkembang di kelompok para Siswa yang datang dari daerah maupun suku tertentu. 

Guna membina Persatuan antara para siswa, maka dibuatlah suatu pelatihan atau sekolah Bestuur dan selanjutnya dibentuklah suatu dewan perwakilan dari beragam suku. Dewan perwakilan ini ditujukan guna memudahkan kontak dibawah komando Sugoro. Para anggotanya diantaranya yaitu Frans Kaisiepo, Marthen Indey, SD Kawab, Silas Papare dan G. Saweri.

Pada tanggal 31 Agustus 1945 di Bosnik, Biak Timur dilaksanakan suatu upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang saat itu dihadiri oleh paraTokoh Komite Indonesia Merdeka yaitu Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey dan juga M. Youwe. Dalam upacara itu dinyanyikanlah lagu Kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya. 

Pada tanggal 10 Mei 1946 di daerah Biak, dibentuklah sebuah Partai Indonesia Merdeka ( PIM ) yang diketuai oleh Lukas Rumkoren. Salah satu pencetusnya ialah Frans Kaisiepo yang kala itu menjabat  sebagai Kepala Distrik di wilayah Warsa, Biak Utara. 

Pada bulan Juli 1946 Frans Kaisiepo menjadi bagian dari anggota delegasi pada Konperensi Malino di provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai seorang pembicara dia merubah nama Papua serta Nederlans Nieuw Guinea menjadi kata Irian yang diberi penjelasan Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands. Konon katanya nama Irian berasal dari bahasa Biak yang bermakna panas. 

Frans Kaisiepo juga tergabung sebagai anggota delegasi yang melawan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dikarenakan NIT tersebut tanpa melibatkan Irian Jaya. Berkenaan dengan hal tersebut dia menyarankan supaya Irian Jaya masuk Karesidenan Sulawesi Utara. Pada bulan Maret 1948 berlangsung pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah Belanda, dan Frans Kaisiepo ialah salah satu orang yang merancang pemberontakan itu. 

Pada tahun 1949 Frans Kaisiepo menolak jabatan sebagai Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konperensi Meja Bundar di Den Hag, dikarenakan tidak ingin didikte dalam berkata yakni harus sesuai kemauan Belanda. Sebagai bentuk konsekuensi dari penolakannya, ia kemudian dijatuhi hukuman selama 7 tahun di antara tahun 1954 hingga tahun 1961. 

Pada tahun 1961, pada saat ia diberikan jabatan sebagai Kepala Distrik Mimika (Fakfak) dia membangun Partai Politik Irian sebagian Indonesia yang disingkta dengan kata ISI, yang menuntut penggabungan kembali Nederlands Nieuw Guinea ke dalam negara Republik Indonesia. Pada saat TRIKORA, dia banyak menolong maupun menjadi pelindung bagi para infiltran Pejuang Indonesia yang didaratkan di Mimika hingga tidak sampai diketahui oleh pemerintah Belanda.

Pada tahun 1964 saat menjabat sebagai Gubenur KDH provinsi Irian laya dan juga merangkap Ketua DPRDGR Frans Kaisiepo adalah salah satu mesin penggerak Musyawarah Besar Rakyat Irian Barat guna membahas beberapa langkah penggabungan Irian Barat menjelang kegiatan Pepera 1969. Sewaktu menjabat sebagai  Gubernur KDH Provinsi Irian Barat, Frans Kaisiepo berupaya sekuat – kuatnya untuk jadi pemenang Pepera pada tahun 1965, yakni dengan taktik pungutan suara dengan sistem perwakilan yang diawali dari kabupaten Merauke serta berakhir di Ibu Kota provinsi Jayapura. 

Penyelenggaraan kegiatan Pepera di Irian Barat sukses dan juga Irian Barat adalah sisi mutlak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga tahun setelah sukses memenangi Pepera, pada tahun 1972 dia kembali diangkat menjadi bagian anggota MPR-RI Utusan dari Wilayah Irian Jaya. Tidak hanya sampai disitu dari tahun 1973-1979 Frans Kaisiepo kembali diangkat menjadi Anggota DPA-RI.

Pemberian Kehormatan Dan Gelar Pahlawan Nasional
Guna mengenang kembali jasanya, namanya diabadikan menjadi sebuah nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak. Tidak hanya itu namanya juga di abadikan di satu diantara KRI yakni KRI Frans Kaisiepo. Tidak hanya sebatas itu, ia juga diberikan kembali sebuah penghargaan yang membuat namanya dikenal di seluruh wilayah Indonesia dikarenakan pada tanggal 19 Desember 2016, foto dan namanya diabadikan dalam selembar uang kertas Rupiah baru dengan nominal Rp. 10.000. 

Atas jasa dan juga perjuangannya yang luar biasa, kemudian Pemerintahan Indonesai menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada beliau berdasarkan kepada SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.

3. Silas Papare 
Sumber: @ibnusinajr via Instagram
Silas Papare merupakan seorang pahlwan nasional yang lahir di Serui, Papua, pad tanggal 18 Desember 1918 serta wafat di tempat yang sama dengan tempat kelahirannya yakni di Serui, Papua, pada tanggal 7 Maret 1978 pada usianya yang mencapai 60 tahun. Beliau ialah seseorang pejuang penggabungan Irian Jaya yang saat ini lebih dikenal dengan nama Papua menjadi bagian dari daerah Indonesia. 

Kisah Perjuangan Silas Papare
Dia merampungkan pendidikannya di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 serta bekerja menjadi seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda. Dia amat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua sampai-sampai dia seringkali berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam melawan kolonialisme Belanda. Dikarenakan hal tersebut, dia dipenjarakan di Jayapura lantaran mempengaruhi Batalyon Papua untuk melakukan suatu pemberontakan 

Sewaktu menjalani masa tahanan di daerah Serui, Silas berteman dengan Dr. Sam Ratulangi yang merupakan Gubernur Sulawesi yang juga diasingkan oleh Belanda ke tempat itu. Perjumpaannya itu makin meningkatkan keyakinan dia bahwasanya Papua mesti bebas dari penjajahan Belanda serta masuk ke dalam kesatuan Republik Indonesia. 

Pada akhirnya, dia membangun Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Hal ini menyebabkan, dia kembali diamankan oleh Belanda dan juga dipenjarakan kembali di daerah Biak. Akan tetapi, dengan transportasi kapal laut, Silas Papare dan juga isterinya, Regina Aibui beserta keluarganya memilih jalan untuk melarikan diri ke arah Yogyakarta. Pada bulan Oktober 1949 di daerah Yogyakarta, dia membangun suatu Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka untuk menolong pemerintah  Indonesia guna memasukkan daerah Irian Barat menjadi bagian dari Republik Indonesia. 

Silas Papare yang saat itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) diperintah oleh Soekarno menjadi perwakilan delegasi Indonesia dalam New York Agreement yang di tandatangani pada 15 Agustus 1962, yang menyudahi konfrontasi Indonesia dengan kolonial Belanda mengenai daerah Irian Barat. Seusai penggabungan Irian Barat menjadi bagian dari Indonesia, dia lantas diangkat menjadi bagian anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara). 

Pemberian Penghormatan dan Gelar Pahlawan Nasional
Silas Papare sendiri banyak mendapatkan penghormatan diantaranya, namanya diabadikan jadi satu diantara nama Kapal Perang Korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386. Tidak hanya itu, namanya juga diabadikan menjadi nama monumen yakni Monumen Silas Papare di dekat pantai serta pelabuhan laut Serui. 

Sedangkan di Jayapura sendiri, namanya diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang lokasinya berada di Jalan Diponegoro. Tidak berhenti sebatas itu saja, namanya kembali diabadikan sebagai nama jalan pada kota Nabire

Atas jasa serta perjuangannya yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menganugerahi  Silas papare dengan gelar Pahlawan Nasional berdasar SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

4. Johannes Abraham Dimara 
Sumber: @indonesian_military via Instagram
Mayor TNI Johannes Abraham Dimara merupakan seorang pahlawan nasional dari Papua yang lahir di Korem, Biak Utara, Papua, pada tanggal 16 April 1916 serta wafat di daerah Jakarta, pada tanggal 20 Oktober 2000 pada usianya yang mencapai 84 tahun. Atas semua jasa-jasanya, bersama dengan Dr. J. Leimena dia diangkat jadi Pahlawan Nasional Indonesia. 

Kisah Kehidupan Johannes Abraham Dimara
Johannes Abraham Dimara menyelesaikan pendidikan dasarnya di daerah Ambon pada tahun 1930. Dia setelah itu masuk Sekolah Pertanian di daerah Laha sampai tahun 1940. Selanjutnya, ia masuk Sekolah Pedidikan Injil, serta sesudah lulus dia bekerja menjadi seorang guru injil di Pulau Buru. Pada tahun 1946, dia turut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di wilayah Namlea, pulau Buru. Dia turut serta dalam memperjuangkan pengembalian daerah Irian Barat menjadi bagian Republik Indonesia. 

Pada tahun 1950, dia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Dia juga menjadi salah satu anggota TNI yang mengerjakan infiltrasi pada tahun 1954 yang mengakibatkan dia diamankan oleh tentara lolonial Belanda yang kemudian dibuang ke daerah Digul sampai akhhinya dibebaskan kembali pada tahun 1960.

Disaat Presiden Soekarno mengumumkan operasi Trikora, dia menjadi contoh figur orang muda Papua  bersama-sama dengan Soekarno  turut menyuarakan Trikora di Yogyakarta. Dia ikut menyuarakan semua warga di daerah Irian Barat agar memberi dukungan penggabungan wilayah Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, dibuatlah Perjanjian New York.

Dia menjadi satu diantara delegasi bersama dengan Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu pada akhirnya mewajibkan pemerintah Belanda agar bersedia menyerahkan daerah Irian Barat ke tangan pemerintah Indonesia. Jadi dimulai dari kala itu daerah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari NKRI. 

Disaat pawai 17 Agustus yang dilaksanakan di depan istana yang saat itu belum dibangun Monas, Dimara memakai rantai yang terputus. Bung Karno menyaksikan itu serta mendapat inspirasi untuk mendirikan patung pembebasan Irian Barat. Karena itu, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di tempat yang cuma berjarak kurang dari 1,5 km dari lokasi Istana negara, yaitu di Lapangan Banteng. Dimara menceritakan kejadian tersebut di dalam buku karya tulis Carmelia Sukmawati yang berjudul, Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua,J.A. Dimara.

Penghargaan Johannes Abraham Dimara
Beberapa penghargaan didapatkan oleh  Johannes Abraham Dimara, diantaranya Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu, Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua, Satyalancana Bhakti, Satyalancana Satya Dharma, Satyalancana Pelopor Gerakan kemerdekaan dan Satyalancana Gerakan Operasi Militer III.

Itulah artikel tentang 4 Pahlawan Nasional Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia yang dapat abang nji informasikan kepada sahabat-sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan serta kecintaan terhadap bangsa ini guna menghormati jasa-jasa pahlawan kemerdekaan. 

Semoga bermanfaat.

0 Response to "4 Pahlawan Nasional Dari Papua Yang Berjasa Bagi Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel